Archive for the ‘Command Line’ category

memperbaiki resolusi layar refresh rate di ubuntu 13.04

Oktober 17th, 2013

kembali lagi setelah bertapa lama tidak menulis di website KPLI Pacitan. sedikit berbagi pengalaman tentang masalah resolusi layar di linux kususnya ubuntu yang saya pakai. :D.

masalah ini  terjadi karena ketika menggunakan layar laptop yang biasa berukuran 14′ keadaan tampilan masih enak buat di pandang degan resolusi sekitar 1024×768.

mulai berasa kurang enaknya ketika berganti menggunakan layar yang lebih besar. contohnya Dual layar sama LED 23′. biar lebih greget sama pandangan dan view kotak katiknya lebih luas.

ketika memakai layar yang berukuran lebih dari 14′ menggunakan resolusi 1024×768 sepertinya bukan hal yang cocok. karena terlihat ikon dan space ruang terbuang sia2 dengan bentuk ikon yang besar. 😀

dan akhirnya ketemu solusinya. langsung saja.

pertama cek suport resolusi buat LED/LCD dkk yang suport. cek dengan perintah

$xrandr 

dari perintah itu akan di tampilkan resolusi yang suport buat LCD/LED yang di pakai. tinggal pilih dah mau yang mana. 😀

hasil xrandr

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

dari contoh gambar di atas saya memilih untuk memakai resolusi yang paling besar yaitu 1920×1080. maka gunakan perintah

 $xrandr --output HDMI1 --mode 1920x1080 --rate 30 

–output digunakan untuk menentukan output mana yang akan kita setting resolusinya. sebagai contoh saya menggunakan HDMI.

–rate sebagai ukuran refresh rate yang akan kita pakai, standar ketika kita menyetting resolusi layar di ubuntu menggunakan DISPLAY di menu System Setting adalah 60.

kendalanya jika refresh rate 60 tersebut tidak di dukung oleh LCD/Monitor. maka tidak akan kuat buat menampilkan Ubuntu kita. 😀 (blank screen)

jadi bisa di ubah menyesuaikan, sabagai contoh saya menggunakan refresh rate 30.

Finish. maka akan melihat tampilan yang lebih enak di pandang dan digunakan ketika menggunakan resolusi 1920×1080 untuk LED yang berukuran 23′.

semoga bermanfaat. dan mohon koreksinya.. 😀

 

 

 

 

 

 

 

Perintah Dasar Jaringan Di LInux

Juli 13th, 2011

Zzzz.Z….zzz…

Datang lagi setelah lama hampir satu minggu saya tidak absen lagi untuk berbagi pengetahuan… seperti biasa dengan keterbatasan koneksi yang tak begitu stabil bisa di bilang lemot.. karena koneksinya hanya dengan GPRS.   😀 .

Tapi tak apalah pokoknya tetep cari jalan untuk bisa berbagi.. langsung saja saya akan berbagi ilmu /Tips /Trik dari pengalaman saya selama ini ketika belajar dan kotak-katik mengenai Perintah – perintah dasar di Linux yang berkaitan dengan Jaringan komputer berbasis Linux.

baik silahkan di simak dan segera dipraktekan…. 😀

1. ifconfig : Perintah ini sering digunakan untuk administrasi Jaringan Komputer berbasis Linux..  perintah ini dapat digunkan hampir di semua OS linux. Perintah ini berguna untuk melihat IP ataupun interface yang kita miliki. untuk lebih detailnya kita bisa guakan perintah

  #ifconfig -a 

2. Ping : Perintah ini berguna untuk mengecek ketersambungan komputer kita terhadap Komputer lain dalam jaringan..

contoh :

 #ping 192.168.1.10  

.

jika mendapat pesan replay maka komputer kita berhasil terhubung pada komputer yang memiliki IP 192.168.1.10. dan jika mendapati pesan RTO Riquest Time Out berarti komputer kita belum berhasil terhubung.

3. cat / vim / vi /pico / nano :   Subuah program text editing yang bekerja debagai mode text. untuk mengatur atau mengedit suatu file konfigurasi kita dapat menggunakan salah satu perintah tersebut.

4. nslookup : untuk mengetahui name server.

5. hostname : untuk menampilkan nama host kita.

6. man : untuk menampilkan manual page suatu perintah.

 

cukup itu aja dulu ya… belajar itu tidak harus langsung banyak tapi belajar yang baik itu sedikit demi sedikit dan terus istiqomah.. kata orang jawa kudu AJEG.. hehe. 😀

Manajemen paket menggunakan apt-get di Debian

Juni 10th, 2011

Manajemen paket di Debian, dapat menggunakan tools apt-get

Apa itu APT?
APT (Advanced Packaging Tool) adalah sebuah tool inti yang ada di Debian, yang memungkinkan untuk:

  • Menginstal aplikasi
  • Menghapus aplikasi (Uninstall)
  • Menjaga agar aplikasi tetap up to date.
  • dan masih banyak lagi…

apt-get dan apt-cache adalah tool manajemen paket yang paling dasar, dan untuk dapat menggunakan tool ini anda harus mempunyai akses sebagai root.
Untuk dapat menginstal aplikasi/paket, maka kita harus menentukan sumber paket yang akan digunakan, bisa dari DVD installer atau dari mirror debian.

» Read more: Manajemen paket menggunakan apt-get di Debian

Koneksi Internet dengan Text Mode via Bluetooth

Juni 5th, 2011

“ keterbatasan bukanlah suatu kendala yang dimana, mungkin kita tidak bisa menikmatinya..

tapi kendala akan menjadi suatu motivasi besar untuk mencari jalan keluar agar kita bisa menikmatinya “

langsung ke TKP..

3G/HSDPA/HSUPA .. tidak sampai menjangkau area tempat tinggal q. maklum posisi rumah yang begitu berliku dan di daerah desa.. he.he :-D.. maksimalnya hanya mendapat GPRS/EDGE..

karena sekarang internet dapat di nikmati melalui beragam media elektronik atau media komunikasi.

kemudian Terfikir pada koneksi internet dari hp kecil, mungil + lama saya.. dari hp kita bisa mengakses internet. Bisa browsing, chating, download, dan yang g lupa facebookan.. he.he..

sudah jangan lama-lama curhatnya.. langsung saja ke intinya.. let’s gooo ..! 😀

» Read more: Koneksi Internet dengan Text Mode via Bluetooth

Pemulihan Block Device yang Tertimpa, Menggunakan TestDisk

Juni 4th, 2011

Tadi malam ada siswa saya yang panik di FB gara-gara datanya ilang semua sehabis cp di command line Ubuntu. Kok bisa ? Kasusnya sepele, meski tidak seharusnya sampai terjadi. Dia lupa me-mount partisinya terlebih dahulu, jadi yang seharusnya copy file dilakukan ke mount point, malah ditujukan ke block device. Jadi, alih-alih melakukan copy sebagai berikut (saya asumsikan ini dijalankan sebagai root, atau melalui sudo) :


cp /etc/grub.d/05_debian_theme /media/documents

dia malah menggunakan ini :


cp /etc/grub.d/05_debian_theme /dev/sda5

Apa yang terjadi berikutnya adalah, partisi yang direpresentasikan sebagai block device /dev/sda5 kini tertimpa dengan file 05_debian_theme, atau setidaknya rusak strukturnya. Tidak jelas apa yang sebenarnya terjadi, karena bahkan tidak ada peringatan semacam “are you sure” dari sistem operasi. Hasilnya adalah, saat partisi tersebut akan di-mount, malah muncul peringatan error “NTFS signature is missing…” dst. Saat reboot ke OS Windows (dalam kasus ini laptop menggunakan mekanisme dual-boot Windows dan Ubuntu), Windows pun tidak bisa mendeteksi partisi tersebut dengan benar, bahkan menginstruksikan untuk memformat. Kalau sudah seperti ini, dan kebetulan itu partisi yang paling penting, semua kerjaan ada di sana, bisa nangis tu anak orang. 😀

» Read more: Pemulihan Block Device yang Tertimpa, Menggunakan TestDisk

MD5SUMS Itu Apa Sih ?

April 30th, 2011

Bagi banyak pemula di per-Linux-an, termasuk saya, kemungkinan besar pernah mbatin, “File MD5SUMS ini buat apa ya ? Mana isinya cuma teks dengan kode yang ga jelas…”. File MD5SUMS ini biasanya ditemukan di repository yang menyediakan file ISO, tidak terkecuali yang menyediakan file ISO installer Sistem Operasi Linux. Semisal ada sebuah file MD5SUMS dengan konten sebagai berikut :


e8c522fc69d3bf2fda99b63b8f7c12f3 *ubuntu-11.04-dvd-i386.iso
b1a479c6593a90029414d201cb83a9cc *ubuntu-11.04-server-i386.iso
8b1085bed498b82ef1485ef19074c281 *ubuntu-11.04-desktop-i386.iso

» Read more: MD5SUMS Itu Apa Sih ?

CD Burning di Debian/Ubuntu via Command Line

November 26th, 2010
IBM x3250 ICT Center Pacitan

IBM x3250 ICT Center Pacitan

Tadi malam ada anggota baru di keluarga server ICT Center Pacitan, sebuah server IBM x3250-M3 C2A. Karena saya tidak ingin ada waktu menganggur bagi server ini, maka segera saya siapkan CD installer sistem operasi untuk memberi hardware mahal milik negara ini “nyawanya”. Untuk beberapa saat saya sempat bimbang dengan pilihan OS yang akan digunakan, karena selama ini webserver yang telah mengabdi sejak tahun 2006 berjalan stabil di Debian 4.0 (Etch), hingga diupgrade ke versi 5.0 (Lenny). Tapi hati ini juga kecewa dengan paket-paket binary resmi yang seringkali terlalu outdated di Debian, padahal di Ubuntu sudah jauh lebih baru.

Dengan memutuskan untuk mengesampingkan sejenak ikatan emosional dengan Debian, akhirnya saya putuskan untuk memilih Ubuntu 10.04.1 LTS sebagai distro of choice bagi IBM System x3250 di ICT Center Pacitan. Nah, untuk mempersiapkan CD installer, tentunya harus burn dulu dari file ISO, yang pada saat saya butuhkan ternyata masih berada di webserver lama, dan untuk mengkopinya via LAN kecepatannya kurang rasional. Solusi yang terpikir oleh saya adalah, memasang Portable USB DVDRW Drive ke server, lalu burn langsung via command line dari puTTY.

» Read more: CD Burning di Debian/Ubuntu via Command Line